April 16, 2026
WhatsApp Image 2026-03-30 at 20.40.25 (1)

​Di tengah badai pemotongan anggaran yang melanda banyak daerah, Kabupaten Soppeng justru tampil sebagai anomali yang memukau berkat diplomasi progresif duet Suwardi Haseng dan Selle KS Dalle. Keduanya berhasil menunjukkan “tangan dingin” dalam melobi pemerintah pusat, memastikan aliran dana APBN tetap mengucur deras ke Bumi Latemmamala demi menjaga napas sektor pertanian. Langkah taktis ini diambil sebagai jawaban atas tantangan nyata keterbatasan fiskal daerah yang seringkali menghambat perbaikan infrastruktur dan penyediaan sarana produksi bagi para petani di pelosok desa.
​Tahun 2025 menjadi tonggak awal revolusi hijau ini dengan penyaluran bantuan alat dan mesin pertanian (Alsintan) yang sangat masif senilai Rp28,3 miliar. Ratusan unit traktor roda empat, traktor crawler, hingga combine harvester telah mendarat di tangan kelompok tani, mengubah wajah pertanian tradisional menjadi lebih mekanis dan efisien. Dukungan ini kian diperkuat dengan suntikan anggaran Rp6,6 miliar untuk pengadaan ratusan ribu kilogram benih padi dan jagung, serta bibit kakao hingga pala, yang dirancang untuk mendongkrak produktivitas sekaligus memperkuat ketahanan pangan lokal di tengah ancaman perubahan iklim.
​Ambisi besar Suwardi-Selle semakin nyata memasuki tahun 2026 dengan menyelaraskan visi daerah pada program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Fokus utama kini bergeser pada penguatan infrastruktur dasar melalui pembangunan 28 paket jalan pertanian yang akan memangkas biaya logistik secara drastis. Mobilitas hasil panen yang selama ini terkendala jalan rusak kini mendapat jaminan kelancaran, memastikan komoditas petani sampai ke pasar dalam kondisi prima dengan harga jual yang tetap stabil dan kompetitif.
​Salah satu terobosan paling ikonik dalam misi ini adalah program “Listrik Masuk Sawah” dengan pagu anggaran fantastis mencapai Rp28,7 miliar dari APBN. Program ini menyasar lahan non-rawa seluas 6.256 hektar, memungkinkan penggunaan pompa irigasi modern yang jauh lebih hemat energi dibandingkan mesin berbahan bakar minyak. Ditambah dengan pembangunan 134 unit irigasi perpompaan dan perluasan 300 hektar sawah baru, Soppeng kini bersiap melakukan lompatan besar menuju intensifikasi lahan yang memungkinkan petani memanen hasil bumi hingga tiga kali dalam setahun.
​Keberhasilan menjemput “emas” dari pusat ini bukan sekadar soal angka, melainkan tentang martabat dan masa depan ribuan keluarga petani di Soppeng. Sinergi antara perencanaan lokal yang matang dan koordinasi kuat dengan kementerian terkait telah membuktikan bahwa keterbatasan anggaran bukanlah penghalang bagi pemimpin yang memiliki visi dan jaringan luas. Kini, desa-desa di Soppeng tidak hanya menjadi saksi modernisasi teknologi, tetapi juga menjadi ladang optimisme baru bagi generasi muda untuk kembali bertani dengan dukungan infrastruktur yang andal dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *