Saya saban hari duduk di dua warkop di Makassar. Pagi, di Dg Anas, kawasan Faizal. Sore, kongkow di Megazone di kawasan Topaz.
Pembahasannya, tak jauh dari Piala Dunia. Namun ada isu menarik nan nyeleneh. Piala Dunia selalu melahirkan satu fenomena yang hanya bisa ditemukan setiap empat tahun sekali, pendukung yang tidak pernah kalah… hehehe.
Bukan karena timnya hebat. Tapi karena timnya selalu berganti.
Hari ini fotonya Lionel Messi. Besok berganti Harry Kane. Lusa sudah pakai jersey Spanyol. Kalau Spanyol kalah, jangan kaget minggu depan dia mengunggah foto Mbappé sambil menulis, “Dari dulu saya memang suka gaya main Prancis.”
Yang lebih hebat, proses perpindahan klubnya sangat cepat. Tidak perlu bursa transfer, tidak perlu negosiasi kontrak, apalagi tes medis. Cukup satu peluit panjang dari wasit, selesai. Kesetiaan pun ikut ditiup bersama peluit akhir.
Mereka juga punya kemampuan luar biasa menghapus jejak digital. Status yang semalam berbunyi, “Argentina harga mati,” tiba-tiba lenyap tanpa bekas. Diganti dengan kalimat baru, “Sepak bola indah itu ya Spanyol.”
Kalau ada yang protes, jawabannya sederhana. “Saya dari dulu memang suka tiki-taka.”
Padahal tiga hari lalu masih menjelaskan filosofi gegenpress dengan penuh keyakinan.
Yang paling lucu, mereka selalu punya alasan ilmiah setiap kali pindah haluan. “Sebagai penikmat sepak bola, saya mendukung permainan berkualitas.”
Artinya, siapa pun yang masih menang, itulah yang didukung.
Mungkin inilah satu-satunya komunitas di dunia yang tidak mengenal istilah patah hati. Tim kesayangan gugur? Tidak ada waktu bersedih. Besok sudah punya kesayangan baru.
Beginilah indahnya Piala Dunia. Turnamen yang bukan hanya mencari juara dunia, tetapi juga menguji ketahanan… para pendukung dadakan.
Jadi, kalau besok teman Anda tiba-tiba muncul memakai jersey tim yang kemarin baru mengalahkan jagoannya, jangan heran. Itu bukan pengkhianatan.
Itu hanya tradisi empat tahunan.
Dan siapa tahu… final nanti dia sudah mengaku menjadi pendukung tim juara sejak kecil. (*)

Tinggalkan Balasan