Pagi ini saya kembali duduk di meja pojok Warkop Dg Anas, bilangan Faisal, Makassar. Sebuah meja yang punya daya tarik tersendiri. Penghuninya beragam, politisi, pengusaha, akademisi, pengacara hingga demonstran.
Bahkan, sejumlah menteri dan tokoh nasional, termasuk Mahfud MD, pernah menyambanginya.
Pagi ini diskusi masih berkutat pada isu penyadapan Presiden Prabowo. Namun, pembicaraan kemudian bergeser ke politik praktis. Di tengah obrolan, mantan politisi Golkar, Farouk M. Betta, melontarkan sebuah gagasan yang menarik. Saya bahkan sempat bergurau, ini bisa menjadi novelty untuk sebuah disertasi doktoral.
Gagasannya sederhana, karakter sosial seseorang tidak selalu berbanding lurus dengan tindakan politiknya.
Menarik!
Seseorang bisa sangat santun, ramah, dermawan, dan ringan tangan dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi ketika memasuki ruang politik, pilihan dan sikapnya bisa berbeda jauh dari nilai-nilai yang selama ini diperlihatkannya.
Di lingkungan sosial, ia menjunjung toleransi. Dalam politik, toleransinya kadang ikut berkoalisi dengan kepentingan. Di kampung, ia dikenal suka menolong. Tetapi dalam menentukan pilihan politik, belum tentu pertimbangan sosial menjadi prioritas.
Rupanya, manusia punya dua kompas: satu untuk kehidupan sosial, satu lagi untuk politik. Sayangnya, keduanya tidak selalu menunjuk arah yang sama.
Politik memang punya keunikan. Orang yang biasanya rasional bisa mendadak emosional. Kesalahan tokoh yang didukung bisa dicari seribu alasan untuk dibenarkan. Sementara kesalahan lawan politik, sekecil apa pun, bisa berubah menjadi persoalan moral yang luar biasa besar.
Lucunya, persahabatan puluhan tahun kadang bisa retak hanya karena berbeda pilihan politik. Kopi yang sama, meja yang sama, tetapi isi kepala tak lagi seirama.
Mungkin inilah paradoks manusia. Kita bisa sangat baik dalam hubungan personal, tetapi belum tentu konsisten membawa nilai kebaikan itu ke dalam pilihan politik.
Karena itu, jangan buru-buru menilai kualitas politik seseorang hanya dari keramahan sosialnya. Begitu pula, jangan menganggap perbedaan pilihan politik sebagai ukuran buruknya karakter seseorang.
Pada akhirnya, politik seharusnya menjadi ruang untuk menguji nilai, bukan tempat menanggalkan akal sehat.
Kopi boleh pahit, diskusi boleh panas, pilihan politik boleh berbeda. Tetapi jangan sampai persahabatan ikut menjadi korban.
Sebab, koalisi politik bisa berubah setiap saat. Tetapi kehilangan teman ngopi, kadang jauh lebih sulit dipulihkan. (*)
#nurmalMIND


