Jadi ‘Penonton VIP’, Kisah Tiga Pengamat di Musda Golkar Sulsel

CELEBESTERKINI.id, Makassar – Musda XI Golkar Sulsel ternyata bukan cuma panggung buat para pemilik suara. Ada juga “penonton VIP” yang bebas keluar-masuk ruang sidang tanpa harus rebutan kartu suara.

Kalau peserta lain datang membawa mandat, tiga orang ini datang membawa catatan, analisis, dan mungkin juga tebakan politik.

Panitia Musda memang membuat sedikit inovasi. Lewat kebijakan Steering Committee (SC), sejumlah akademisi dan pengamat diberi akses khusus mengikuti seluruh rangkaian Musda di Hotel Claro Makassar, mulai pembukaan, pembahasan rekomendasi, program kerja, sampai momen paling ditunggu: Ilham Arief Sirajuddin (IAS) ditetapkan secara aklamasi sebagai Ketua Golkar Sulsel periode 2026–2031.

Masuknya pun bukan sembarang masuk. Arena Musda dijaga ketat dengan barcode gate. Jadi, jangan berharap bisa nyelonong hanya modal senyum. “Mereka boleh ikut di ruang sidang, tapi tidak punya hak memilih dan hak suara,” kata Sekretaris SC Musda, Nasruddin Upel.

Kalau diibaratkan pertandingan sepak bola, mereka duduk di tribun VVIP. Bisa melihat semuanya dari dekat, tapi tidak boleh ikut menendang bola.

Lalu siapa saja tamu spesial itu?

Yang pertama, Dr. Attock Suharto. Akademisi yang kini mengajar di Sulawesi Tengah ini sudah lama dikenal sebagai pengamat politik Sulsel. Wajahnya akrab di berbagai diskusi dan pemberitaan politik. Hubungannya dengan IAS juga bukan hubungan musiman. Sejak masih sama-sama aktif di dunia mahasiswa, komunikasi keduanya sudah terjalin dan terus berlanjut hingga sekarang.

Nama kedua tentu tidak asing, Dr. Nurmal Idrus. Direktur Nurani Strategic Consulting ini datang lewat jalur pengamat. Di Sulsel, nama Nurmal sudah cukup dikenal sebagai konsultan politik yang sering dimintai membaca arah angin sebelum banyak orang sadar anginnya sudah berubah.

Ia pernah menjadi Ketua KPU Makassar ketika IAS menjabat Wali Kota Makassar. Sejak saat itu, diskusi politik keduanya disebut-sebut tak pernah benar-benar berhenti. Kalau IAS sedang menyusun langkah, banyak yang meyakini Nurmal termasuk orang yang diajak bertukar pikiran.

Yang ketiga adalah Dr. Baharuddin Hafid, akademisi Universitas Mega Rezky Makassar sekaligus mantan Ketua KPU Jeneponto. Baharuddin juga bukan nama baru di lingkaran IAS. Ia pernah menjadi bagian dari Batu Putih Syndicate, kelompok yang sejak lama dikenal sebagai dapur pemikiran politik IAS.

Jadi, kalau selama Musda ada yang terlihat lebih sering mengamati daripada bertepuk tangan, lebih banyak mencatat daripada berdebat, kemungkinan besar mereka bertiga.

Musda memang telah selesai. IAS sudah resmi memimpin Golkar Sulsel. Tetapi kehadiran para akademisi dan pengamat ini memberi pesan menarik: politik bukan hanya soal siapa yang mengangkat tangan saat voting, tetapi juga siapa yang mampu membaca peta sebelum semua orang sadar ke mana arah kompas sedang bergerak. Banyak yang meyakini bahwa ketiganya bakal mewarnai gerak pemenangan pemilu Golkar Sulsel ke depan. (sah/ren)


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *