Senin, 09 November 2026 | Menyajikan Fakta, Mengawal Kebenaran
Breaking News
Ketika Kebaikan Sosial Tak Selalu Menjadi Kompas Politik • Lepas Kontingen Judo Makassar ke Proprov XVIII, Haidil Adha Pasang Target Juara Umum • 33 Mahasiswa Baru Magister Manajemen UNIPOL, Ada Legislator, Bankir hingga Polisi • Siapa ‘Dalang’ di Balik Gelaran Motocross Bhayangkara Cup III • Pembalap Nasional M. Athar Al Ghifari dan Artis Duo Serigala Pilih Penginapan Ini Selama di Soppeng • Ketua DPD GRIB Jaya Sulsel Apresiasi Kinerja Dir Intelkam Polda Sulsel Jaga Kondusivitas Aksi Sumpah Pemuda • Jakarta Berpesta, Pramono Mengajari Kota Cara Menghasilkan Uang • Usai Dilantik, Suwardi Haseng Pilih Segera ke Soppeng
Opini

Unipol dan Cara Sederhana Menjaga Soppeng Tetap Hidup

Ada aset daerah yang baru terasa penting ketika tidak ada. Universitas Lamappapoleonro (Unipol) Soppeng salah satunya.

Selama ini kita sering menghitung pembangunan dari panjang jalan, jumlah gedung, atau berapa banyak seremoni yang digelar. Padahal ada pembangunan yang bekerja lebih diam-diam, membangun manusia sekaligus menahan uang agar tidak ikut merantau.

Unipol ikut menjaga Soppeng sebagai kota pendidikan. Anak-anak Soppeng punya pilihan untuk kuliah di kampung sendiri, tanpa harus mengirim uang kuliah, uang kos, uang makan, uang laundry, sampai uang fotokopi ke kota lain. Kalau anaknya merantau, yang pergi bukan cuma mahasiswa. Uangnya juga ikut kuliah di luar Soppeng.

Di sinilah Unipol punya kontribusi ekonomi yang sering luput dihitung. Mahasiswa makan di warung sekitar kampus. Mereka ngekos. Fotokopi. Naik kendaraan. Belanja kebutuhan harian. Ketika wisuda digelar, seperti Rabu kemarin, efeknya bahkan lebih terasa, keluarga datang, rumah makan ramai, UMKM bergerak, jasa dokumentasi bekerja, perias kebanjiran order dan hotel terisi. Ternyata toga tidak hanya menghasilkan sarjana. Ia juga menghasilkan transaksi.

Tetapi kontribusi terbesarnya justru ada pada manusia yang dibentuknya.
Alumni dan dosen Unipol telah ikut mengisi berbagai ruang pembangunan Soppeng, dari birokrasi, pendidikan, dunia usaha, UMKM, dan profesi lainnya.

Hari ini mungkin mereka masih sibuk dengan skripsi dan mengejar tanda tangan dosen. Besok, bisa jadi mereka yang mengambil keputusan tentang masa depan Soppeng.

Karena itu, Unipol bukan sekadar kampus. Ia bagian dari ekosistem pembangunan daerah. Tentu, kampus ini masih punya banyak pekerjaan rumah. Justru karena ia aset, Unipol harus terus didorong menjadi lebih berkualitas, lebih produktif, lebih kuat dalam riset, dan semakin dekat dengan kebutuhan pembangunan Soppeng.

Sebab membangun daerah bukan cuma soal membuat sesuatu berdiri.
Kadang pembangunan adalah memastikan uang tidak semuanya pergi, anak-anak tidak semuanya merantau, dan orang-orang yang kelak menentukan masa depan daerah punya tempat untuk ditempa.

Unipol sedang mengerjakan bagian itu. Dan kalau aset seperti ini tumbuh, yang seharusnya tumbuh bukan cuma kampusnya. Soppeng juga. (*)
#nurmalMIND

Berita Terkait