Senin, 09 November 2026 | Menyajikan Fakta, Mengawal Kebenaran
Breaking News
Ketika Kebaikan Sosial Tak Selalu Menjadi Kompas Politik • Lepas Kontingen Judo Makassar ke Proprov XVIII, Haidil Adha Pasang Target Juara Umum • 33 Mahasiswa Baru Magister Manajemen UNIPOL, Ada Legislator, Bankir hingga Polisi • Siapa ‘Dalang’ di Balik Gelaran Motocross Bhayangkara Cup III • Pembalap Nasional M. Athar Al Ghifari dan Artis Duo Serigala Pilih Penginapan Ini Selama di Soppeng • Ketua DPD GRIB Jaya Sulsel Apresiasi Kinerja Dir Intelkam Polda Sulsel Jaga Kondusivitas Aksi Sumpah Pemuda • Jakarta Berpesta, Pramono Mengajari Kota Cara Menghasilkan Uang • Usai Dilantik, Suwardi Haseng Pilih Segera ke Soppeng
Opini

Sebelum Terlambat, Selamatkan PSM!

Kekalahan telak PSM Makassar 0-3 dari PSS Sleman harus menjadi alarm serius bagi semua pihak yang mencintai Juku Eja. Performa tim yang kian melempem bukan lagi sekadar persoalan kalah-menang, melainkan sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu segera dievaluasi secara menyeluruh.

Dalam empat kali laga, PSM hanya mengantongi 2 poin dari dua kekalahan dan 2 seri. Kini, Juku Eja berada di posisi 15 atau hanya satu strip dia tas garis degradasi. Jika tidak ada langkah korektif, ancaman degradasi bisa menjadi kenyataan yang menyakitkan bagi masyarakat Sulawesi Selatan.

Ironisnya, ketika Pemkot Makassar dan Pemprov Sulsel mulai mendorong pembangunan serta pemenuhan fasilitas sepak bola, termasuk Stadion Untia dan Stadion Sudiang, performa tim justru mengkhawatirkan. Kita tentu bangga jika Makassar memiliki stadion megah dan modern. Namun, apa artinya infrastruktur yang mentereng jika PSM justru terdegradasi dari kasta tertinggi sepak bola Indonesia?

Penyelamatan PSM tidak boleh berhenti pada imbauan agar tim segera bangkit. Harus ada langkah konkret, terukur, dan dikerjakan sekarang.

Pertama, manajemen PSM perlu segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja tim, mulai dari efektivitas pelatih, kualitas pemain, kebugaran, hingga strategi permainan. Evaluasi harus berbasis data dan kinerja, bukan semata-mata reaksi emosional setelah kekalahan. Jika ditemukan persoalan pada aspek teknis, keputusan korektif harus diambil cepat, termasuk memperbaiki komposisi pemain dan kebutuhan tim pada bursa transfer yang tersedia.

Kedua, manajemen harus menyusun peta jalan penyelamatan dari ancaman degradasi. Targetnya mesti jelas, poin yang harus dikejar, pertandingan yang menjadi prioritas, kelemahan yang wajib diperbaiki, dan indikator evaluasi setiap pekan. Pemain dan pelatih perlu memiliki target kinerja yang terukur, sementara suporter berhak memperoleh penjelasan yang terbuka mengenai arah pembenahan tim.

Ketiga, persoalan finansial dan tata kelola klub harus dipastikan sehat. Pemilik dan manajemen perlu menjamin kewajiban kepada pemain serta staf terpenuhi, membangun transparansi pengelolaan, dan membuka ruang bagi mitra usaha lokal untuk mendukung klub secara profesional. Dukungan sponsor, penguatan pendapatan komersial, dan pengelolaan suporter sebagai bagian dari ekosistem klub dapat menjadi fondasi agar PSM tidak terus-menerus bekerja dalam situasi serba terbatas.

Keempat, Pemerintah Kota Makassar dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan perlu mengambil peran sebagai fasilitator. Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, yang memiliki pengalaman sebagai mantan pengelola PSM, dapat mendorong pertemuan antara manajemen klub, pemilik, sponsor, tokoh sepak bola, dan perwakilan suporter. Pertemuan ini harus menghasilkan agenda kerja, pembagian tanggung jawab, serta komitmen dukungan yang realistis. Pemerintah tidak perlu mengambil alih urusan teknis klub, tetapi dapat membantu membangun ekosistem yang memungkinkan PSM bertahan dan berkembang.

Kelima, penyelamatan jangka pendek harus berjalan beriringan dengan pembenahan jangka panjang. Pembinaan pemain muda Sulawesi Selatan, penguatan akademi, pencarian talenta lokal, dan pembangunan jalur yang jelas menuju tim utama harus menjadi prioritas. Stadion Untia dan Stadion Sudiang nantinya semestinya tidak hanya menjadi bangunan megah, tetapi juga bagian dari ekosistem pembinaan, kompetisi, dan pengembangan sepak bola daerah yang berkelanjutan.

Semua langkah itu membutuhkan tenggat waktu dan evaluasi berkala. Dalam waktu dekat, manajemen harus memetakan persoalan paling mendesak dan menentukan tindakan korektif. Selanjutnya, perkembangan tim perlu ditinjau setiap pekan agar keputusan tidak terlambat diambil.

Waktu untuk berbenah masih ada. Karena itu, jangan menunggu PSM terperosok semakin dalam, baru semua pihak bergerak dan saling menyalahkan.

Jangan sampai kita berhasil membangun stadion megah, tetapi gagal menyelamatkan PSM. Stadion bisa dibangun dengan anggaran besar, tetapi mengembalikan klub dari keterpurukan membutuhkan keberanian mengambil keputusan, manajemen yang sehat, dan kerja bersama yang konsisten.

Kini, yang dibutuhkan Juku Eja bukan sekadar janji kebangkitan, melainkan tindakan nyata sebelum terlambat. Menyelamatkan PSM hari ini berarti menjaga kebanggaan Makassar untuk masa depan. (*)
#nurmalMIND

Berita Terkait