Minggu, 08 November 2026 | Menyajikan Fakta, Mengawal Kebenaran
Breaking News
Ketika Kebaikan Sosial Tak Selalu Menjadi Kompas Politik • Lepas Kontingen Judo Makassar ke Proprov XVIII, Haidil Adha Pasang Target Juara Umum • 33 Mahasiswa Baru Magister Manajemen UNIPOL, Ada Legislator, Bankir hingga Polisi • Siapa ‘Dalang’ di Balik Gelaran Motocross Bhayangkara Cup III • Pembalap Nasional M. Athar Al Ghifari dan Artis Duo Serigala Pilih Penginapan Ini Selama di Soppeng • Ketua DPD GRIB Jaya Sulsel Apresiasi Kinerja Dir Intelkam Polda Sulsel Jaga Kondusivitas Aksi Sumpah Pemuda • Jakarta Berpesta, Pramono Mengajari Kota Cara Menghasilkan Uang • Usai Dilantik, Suwardi Haseng Pilih Segera ke Soppeng
Politik

Nurani Strategic Sebut Penunjukan Supriansa Redam Potensi Konflik Jelang Musda Golkar Makassar

CELEBESTERKINI.id, MAKASSAR – Penunjukan Dr. Supriansa, SH, MH, sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPD II Partai Golkar Kota Makassar dinilai dapat menjadi langkah untuk meredam potensi konflik internal menjelang pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) Golkar Makassar.

Direktur Nurani Strategic Consulting, Dr. H. Nurmal Idrus, menilai penunjukan Supriansa memiliki sejumlah pertimbangan strategis, baik dari sisi posisi struktural di partai maupun penerimaan terhadap figur yang bersangkutan di tengah dinamika politik Golkar Makassar.

Menurutnya, Supriansa bukan figur yang berada di luar lingkaran pengambil kebijakan partai. Sebagai Ketua Harian DPD I Golkar Sulawesi Selatan, ia menempati salah satu posisi strategis dalam struktur kepengurusan Golkar tingkat provinsi. Posisi tersebut memberinya pemahaman terhadap dinamika organisasi sekaligus tanggung jawab dalam menjaga konsolidasi partai.

“Penunjukan Supriansa bisa dibaca sebagai upaya menjaga keseimbangan organisasi menjelang Musda. Ia memiliki posisi struktural yang strategis di Golkar Sulsel, sehingga diharapkan mampu mengawal proses transisi kepemimpinan di Makassar,” ujar Nurmal.

Ia menambahkan, dinamika Golkar Makassar saat ini tidak bisa dilepaskan dari perubahan politik setelah Munafri Arifuddin meninggalkan partai tersebut. Perubahan itu membuka ruang bagi penataan ulang hubungan antarkader, konsolidasi kekuatan internal, serta munculnya berbagai kepentingan menjelang Musda.

Dalam situasi seperti itu, menurut Nurmal, figur yang mampu diterima oleh berbagai kelompok menjadi penting. Supriansa dinilai memiliki kharisma dan kapasitas personal yang dapat dimanfaatkan untuk meredam gesekan serta membangun komunikasi di antara kelompok-kelompok yang memiliki kepentingan berbeda.

Selain itu, Supriansa relatif dipandang lebih netral dalam kontestasi politik lokal Makassar. Karakter tersebut diharapkan dapat membantunya menjalankan peran sebagai penjaga proses organisasi, tanpa terlalu jauh terseret dalam persaingan antarkelompok yang berpotensi mengemuka menjelang Musda.

“Yang dibutuhkan Golkar Makassar saat ini bukan sekadar figur yang mengisi jabatan Plt, tetapi sosok yang bisa menjaga keseimbangan, membuka ruang komunikasi, dan memastikan semua kader merasa memiliki kesempatan yang sama dalam Musda,” jelasnya.

Nurmal menegaskan, keberhasilan Supriansa nantinya akan sangat ditentukan oleh kemampuannya menjaga netralitas, merangkul seluruh elemen partai, serta memastikan proses pemilihan ketua berlangsung sesuai mekanisme organisasi.

Ia mengingatkan, Musda seharusnya menjadi ruang demokrasi internal untuk menentukan kepemimpinan baru, bukan arena yang memperdalam perpecahan di antara kader.

“Jangan sampai perubahan kepemimpinan justru membuat Golkar Makassar kehilangan soliditas. Musda harus menjadi momentum konsolidasi, bukan sumber konflik baru. Siapa pun yang terpilih nantinya harus mampu menyatukan kembali seluruh kekuatan partai,” tutupnya.

Menurut Nurmal, tantangan Supriansa bukan hanya mengawal pelaksanaan Musda, melainkan juga memastikan Golkar Makassar mampu melewati masa transisi dengan soliditas organisasi yang tetap terjaga. (sah)

Berita Terkait