Babak baru penyediaan air bersih di Kota Makassar tampaknya mulai menemukan jalannya. Rencana PDAM Makassar membangun bendung karet di Sungai Tallo layak menjadi langkah progresif untuk membuat pasokan air ke kawasan timur dan utara kota lebih stabil.
Sungai Tallo sesungguhnya menyimpan potensi besar sebagai sumber air baku. Persoalannya, air laut ikut “bertamu” terlalu jauh ke sungai. Intrusi air laut membuat kadar Total Dissolved Solids (TDS) meningkat, sehingga kualitas air baku menjadi lebih sulit diolah.
Bendung karet diharapkan menjadi salah satu solusi untuk mengendalikan persoalan tersebut. Dengan pengelolaan yang tepat, air Sungai Tallo dapat menjadi sumber air baku yang lebih andal bagi kebutuhan warga Makassar.
Belum lagi Bendung Nipa-Nipa di kawasan Antang. Airnya melimpah, bahkan ketika sebagian warga masih sibuk menunggu air PDAM mengalir. Ironisnya, potensi itu selama ini belum bisa dimanfaatkan secara optimal karena PDAM membutuhkan izin dari pemerintah pusat di Jakarta. Ini memang ironi yang agak lucu, airnya ada di Makassar, bendungnya juga ada di Makassar, yang kurang justru izinnya dan izinnya harus jalan-jalan dulu ke Jakarta.
Ketika saya masih menjadi anggota Dewan Pengawas PDAM Makassar, persoalan air baku seperti ini adalah salah satu masalah yang terus menghantui manajemen. Karena itu, setiap langkah yang membuka sumber air baku baru patut mendapat dukungan serius.
Jika bendung karet Sungai Tallo terealisasi dan izin pemanfaatan air Nipa-Nipa segera diterbitkan, Makassar sesungguhnya sedang membangun fondasi baru untuk keluar dari problem klasik air bersih. Bukan sekadar menambah produksi, tetapi memastikan sumber air bakunya tersedia dan berkelanjutan.
Karena itu, pemerintah pusat perlu memberikan dukungan penuh, baik melalui anggaran maupun percepatan perizinan. Pemerintah kota dan PDAM juga harus memastikan setiap investasi pada infrastruktur air benar-benar dihitung secara matang, dikelola profesional, dan berorientasi pada pelayanan warga.
Sebab air bersih bukan kemewahan. Air bersih adalah hak dasar warga kota. Dan mudah-mudahan ke depan, warga Makassar tidak lagi sibuk bertanya, “Kapan air mengalir?”. Tetapi cukup membuka keran dan berkata, “Oh, ternyata air memang bisa datang tanpa harus kita tunggu seperti menunggu janji.” (sah)
#nurmalMIND



