Senin, 09 November 2026 | Menyajikan Fakta, Mengawal Kebenaran
Breaking News
Ketika Kebaikan Sosial Tak Selalu Menjadi Kompas Politik • Lepas Kontingen Judo Makassar ke Proprov XVIII, Haidil Adha Pasang Target Juara Umum • 33 Mahasiswa Baru Magister Manajemen UNIPOL, Ada Legislator, Bankir hingga Polisi • Siapa ‘Dalang’ di Balik Gelaran Motocross Bhayangkara Cup III • Pembalap Nasional M. Athar Al Ghifari dan Artis Duo Serigala Pilih Penginapan Ini Selama di Soppeng • Ketua DPD GRIB Jaya Sulsel Apresiasi Kinerja Dir Intelkam Polda Sulsel Jaga Kondusivitas Aksi Sumpah Pemuda • Jakarta Berpesta, Pramono Mengajari Kota Cara Menghasilkan Uang • Usai Dilantik, Suwardi Haseng Pilih Segera ke Soppeng
Uncategorized

Siapa ‘Dalang’ di Balik Gelaran Motocross Bhayangkara Cup III

Watansoppeng yang biasanya tenang, bahkan sesekali terlalu senyap, mendadak bergairah. Ribuan orang memadati Sirkuit Larakkiang untuk menyaksikan Grasstrack dan Motocross Bhayangkara Cup III, 31 Oktober–1 November 2026.

Saya tidak terlalu tertarik membahas para crosser yang menggeber motornya seperti sedang berlomba menjemput maut. Saya justru penasaran, siapa orang di balik perhelatan sebesar ini? Sebab, menghadirkan acara semeriah ini tentu butuh biaya, tenaga, dan keberanian berkorban. Apalagi, keuntungan finansialnya belum tentu sebanding dengan ongkos yang dikeluarkan.

Di sinilah nama Ketua KONI Soppeng, Andi Muhammad Sadri (AMS), menarik perhatian. Ia nama lain selain peran Kapolres Soppeng Kapolres Soppeng AKBP Hari Budiyanto, S.H., S.I.K., M.H., dan Bupati Soppeng Suwardi Haseng, di balik meriahnya acara ini.

Ada orang sibuk mencari panggung, AMS justru sibuk membangun panggung agar orang lain bisa bergembira. Tangan dinginnya berada di balik sebuah perhelatan yang bukan sekadar menyuguhkan tontonan olahraga, tetapi juga menghadirkan kegembiraan bagi masyarakat.

Efeknya terasa ke mana-mana. Hotel dan penginapan terisi, rumah makan ramai, pedagang dan UMKM mendapat pembeli, tukang parkir ikut tersenyum. Ekonomi bergerak, kota menjadi hidup. Ternyata, menggerakkan ekonomi tidak selalu harus dimulai dengan seminar dan paparan PowerPoint. Kadang cukup dengan mendatangkan orang, keramaian, dan sebuah event.

Inilah menariknya. Olahraga tidak berhenti pada medali dan podium. Ia bisa menjadi instrumen promosi daerah, penggerak pariwisata, sekaligus sumber perputaran ekonomi masyarakat.

Tentu, keberanian menghadirkan acara seperti ini punya konsekuensi: ada pengorbanan di belakang kemeriahan. Tetapi bukankah kegembiraan ribuan orang dan bergeraknya ekonomi lokal juga sebuah keuntungan, meski tidak semuanya masuk ke rekening penyelenggara?

AMS tampaknya sedang mempertaruhkan satu gagasan sederhana: Soppeng tidak boleh hanya menjadi tempat orang pulang, tetapi juga harus menjadi tempat orang datang.

Dan kepada Pak Ketua KONI, hati-hati. Sekali berhasil membuat kota ramai, masyarakat bisa ketagihan. Besok-besok mereka pasti menagih acara yang lebih besar.

Sebab, panggung boleh dibongkar, suara motor boleh berhenti, tetapi dampak kegembiraan dan perputaran ekonomi semestinya terus terasa. (*)

Berita Terkait