Siang ini, Munafri Arifuddin alias Appi resmi menerima KTA Partai Demokrat. Maka, resmilah sudah, Appi meninggalkan Golkar dan kini berlabuh di kapal biru.
Politik memang unik. Kadang bukan soal kapal mana yang pertama dinaiki, tetapi kapal mana yang dianggap paling tepat untuk melanjutkan pelayaran. Dan Appi tampaknya sudah menentukan kapal berikutnya.
Bagi Demokrat Sulsel, kedatangan Appi tentu bukan sekadar tambahan satu kader. Ini adalah tambahan modal politik yang cukup besar. Appi adalah Wali Kota Makassar, punya pengalaman bertarung dalam kontestasi politik, jaringan pengusaha, jejaring sosial, serta popularitas yang relatif kuat di Makassar. Demokrat tentu berharap Appi bukan hanya menjadi penumpang baru, tetapi bisa ikut menjadi mesin penggerak baru bagi partai di Sulsel.
Sebaliknya, bagi Appi, Demokrat juga bukan sekadar tempat menyimpan KTA. Ia membutuhkan kendaraan politik untuk membangun perjalanan politik berikutnya. Apakah untuk memperkuat posisi di Makassar, membidik panggung Sulsel, atau bahkan membuka jalan menuju Jakarta, semuanya masih terbuka.
Di sinilah menariknya. Appi mendapatkan kendaraan, Demokrat mendapatkan penumpang sekaligus mesin baru. Tetapi dalam politik, kendaraan dan penumpang harus punya tujuan yang sama. Kalau sopir mau ke kiri, penumpang mau ke kanan, yang ada bukan perjalanan politik, tetapi debat di dalam mobil.
Lalu bagaimana dengan peluang Appi menjadi Ketua DPD Demokrat Sulsel?.
Nama Appi tentu sangat mungkin masuk dalam bursa. Tetapi menerima KTA hari ini tidak otomatis berarti menerima kunci kantor Demokrat Sulsel besok pagi. Masih ada mekanisme organisasi, dinamika internal, aspirasi kader, dan tentu saja kalkulasi politik di tingkat DPP. Justru tantangan terbesar Appi adalah meyakinkan kader lama bahwa kedatangannya bukan untuk mengambil rumah, tetapi ikut membesarkan rumah.
Sementara bagi Demokrat, pekerjaan rumahnya juga tidak ringan. Jangan sampai popularitas Appi hanya menjadi aksesoris politik. Demokrat harus mampu mengubah popularitas itu menjadi kekuatan elektoral dan mesin partai yang bekerja hingga tingkat bawah.
Jika kolaborasi ini berjalan baik, Appi bisa menjadi salah satu figur penting dalam peta politik Demokrat Sulsel ke depan. Tetapi kalau tidak dikelola dengan baik, perpindahan kader hanya akan menjadi pergantian warna jaket meriah saat penyerahan KTA, tetapi sepi ketika mesin politik harus bekerja.
Jadi, “Haru Biru Appi” bukan sekadar cerita tentang Appi berganti partai. Ini adalah awal dari pertanyaan yang jauh lebih besar: Apakah Appi yang akan membesarkan Demokrat, atau Demokrat yang akan menjadi kendaraan Appi menuju panggung politik yang lebih tinggi?
Jawabannya tentu belum hari ini. Yang jelas, KTA sudah di tangan. Sekarang tinggal melihat ke mana kapal biru ini akan berlayar. (*)
#nurmalMIND



