Musyawarah Daerah (Musda) Real Estate Indonesia (REI) Sulsel bakal digelar 7 Oktober 2026 mendatang. Meski hak memilih dan dipilih hanya dimiliki anggota REI, namun kita semua berkepentingan dengan Musda REI Sulsel.
Bukan karena ingin tahu siapa yang paling nyaman duduk di kursi ketua, tetapi karena REI punya peran penting dalam menyediakan rumah layak huni, salah satu kebutuhan dasar manusia. Karena itu, jangan sampai REI mendapatkan pemimpin yang hanya pandai mengelola organisasi, tetapi minim terobosan.
Tantangan properti semakin kompleks: harga tanah, daya beli, pembiayaan, perizinan, infrastruktur, hingga kebutuhan rumah masyarakat berpenghasilan rendah. Semua membutuhkan kepemimpinan yang mampu membuka jalan, bukan sekadar membuka rapat.
REI juga jangan berubah menjadi perumahan elite, gerbangnya besar, satpamnya ketat, tetapi hanya kelompok tertentu yang merasa memiliki kunci.
REI harus menjadi rumah bersama seluruh anggota. Kompetisi Musda boleh keras, tetapi setelah palu diketuk, jangan sampai yang menang membawa semua karpet dan yang kalah hanya kebagian keset.
Pemimpin baru harus mampu membangun kolaborasi dengan pemerintah, perbankan, akademisi dan masyarakat. REI harus lebih aktif menawarkan solusi, bukan hanya menyampaikan keluhan.
Dan yang paling penting, industri properti jangan hanya menghitung berapa rumah yang terjual. Ukur juga berapa keluarga yang akhirnya bisa memiliki rumah yang layak, aman dan bermartabat.
Musda REI Sulsel mestinya bukan sekadar memilih siapa ketuanya, tetapi menentukan REI mau menjadi apa. Sebab kalau yang berubah hanya foto ketua di dinding, sementara program dan masalahnya tetap sama, itu bukan regenerasi. Itu hanya renovasi bingkai. Musda REI Sulsel jangan berhenti pada pertanyaan “siapa yang menang?” Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah “apa yang berubah setelah pemenang dilantik?”
Sebab REI tidak membutuhkan pemimpin yang hanya pandai menjaga kursi, tetapi pemimpin yang berani menggeser meja, membuka pintu, dan membuat terobosan.
Jangan sampai lima tahun ke depan REI tetap sibuk membangun rumah untuk orang lain, tetapi lupa membangun rumah organisasinya sendiri, terbuka, inklusif, inovatif dan berpihak pada kepentingan publik.
Kalau setelah Musda yang berubah hanya nama ketua, foto di dinding, dan susunan kursi, sementara persoalan perumahan tetap menjadi penghuni tetap maka itu bukan perubahan. Itu cuma pindah kamar. (sah)
#nurmalMIND



