Golkar Sulsel kini punya pekerjaan rumah yang menarik, bagaimana membuat organisasi yang gemuk menjadi mesin politik yang ramping, lincah dan gesit.
Pak Aco, sapaan akrab Ketua Golkar Sulsel Ilham Arief Sirajuddin, mengumumkan ada 197 nama dalam struktur baru, Golkar Sulsel. Ini menunjukkan Golkar Sulsel tidak kekurangan orang. Yang perlu diuji justru, apakah sebanyak itu juga yang benar-benar bergerak?
Sebab dalam politik, struktur yang gemuk belum tentu tenaga yang besar. Bisa saja seperti mobil tujuh penumpang, kursinya penuh, tetapi yang menginjak pedal gas cuma satu orang.
Aco sudah memberi sinyal yang cukup jelas, pengurus tidak boleh sekadar menjadi nama di struktur. Mesin partai harus bekerja sampai ke bawah, memetakan potensi dan mengonversinya menjadi kekuatan politik.
Nah, di sinilah tantangan sebenarnya. Setelah SK dibagikan, jangan sampai aktivitas politik berhenti pada foto pelantikan. Jangan sampai pengurus rajin hadir ketika ada rapat, tetapi mendadak menjadi manusia langka ketika diminta turun ke daerah.
Karena itu, struktur yang besar harus diikuti sistem evaluasi yang tegas. Setiap pengurus idealnya memiliki tugas, wilayah kerja dan indikator kinerja yang jelas. Ada yang bertugas mengorganisasi kader, membangun komunikasi publik, menggarap pemilih muda, memperkuat saksi, mengembangkan program kerakyatan, dan tentu saja bekerja di basis.
Kalau setelah beberapa waktu ada pengurus yang hanya tercatat namanya tetapi tidak terlihat kerjanya, maka struktur harus berani melakukan evaluasi.
Jangan sampai Golkar memiliki banyak pengurus, tetapi kekurangan pekerja.
Dan di sinilah proses seleksi alam organisasi akan berjalan. Bukan karena siapa dekat dengan siapa, bukan karena siapa paling ramai ketika penyusunan struktur, tetapi karena siapa yang benar-benar bekerja ketika kepentingan partai membutuhkan tenaga.
Kepengurusan baru sebaiknya diperlakukan seperti tim sepak bola, bukan daftar undangan pesta. Semua boleh masuk daftar pemain, tetapi tidak semua harus bermain 90 menit. Yang penting, setiap orang tahu posisinya dan memberikan kontribusi.
Strateginya sederhana, struktur boleh gemuk, tetapi cara kerjanya harus ramping.
Buat target 100 hari pertama. Petakan basis suara di seluruh daerah. Berikan mandat kepada setiap korbid dan wakil ketua. Ukur aktivitas mereka secara berkala. Hidupkan DPD II dan struktur kecamatan. Bangun sistem pelaporan digital sederhana agar pimpinan bisa melihat siapa yang bekerja dan siapa yang hanya muncul di grup WhatsApp.
Karena pada akhirnya, rakyat tidak memilih berdasarkan panjangnya struktur organisasi. Rakyat memilih orang yang hadir, partai yang bekerja dan mesin politik yang terasa denyutnya.
Jadi, pekerjaan IAS bukan sekadar merapikan daftar nama. Pekerjaan terbesarnya adalah mengubah 197 nama menjadi 197 tenaga penggerak.
Kalau itu berhasil, Golkar punya mesin.
Kalau tidak, ia hanya punya daftar panjang orang-orang yang pernah memakai jas kuning. (*)
#nurmalMIND



