Senin, 09 November 2026 | Menyajikan Fakta, Mengawal Kebenaran
Breaking News
Ketika Kebaikan Sosial Tak Selalu Menjadi Kompas Politik • Lepas Kontingen Judo Makassar ke Proprov XVIII, Haidil Adha Pasang Target Juara Umum • 33 Mahasiswa Baru Magister Manajemen UNIPOL, Ada Legislator, Bankir hingga Polisi • Siapa ‘Dalang’ di Balik Gelaran Motocross Bhayangkara Cup III • Pembalap Nasional M. Athar Al Ghifari dan Artis Duo Serigala Pilih Penginapan Ini Selama di Soppeng • Ketua DPD GRIB Jaya Sulsel Apresiasi Kinerja Dir Intelkam Polda Sulsel Jaga Kondusivitas Aksi Sumpah Pemuda • Jakarta Berpesta, Pramono Mengajari Kota Cara Menghasilkan Uang • Usai Dilantik, Suwardi Haseng Pilih Segera ke Soppeng
Opini

PLN Padam, Makassar Macet Sampai Bikin Tobat

Selasa malam, 22 September 2026, Makassar kembali memperlihatkan satu pertunjukan yang barangkali hanya bisa dinikmati warga kota, lampu mati, lampu lalu lintas ikut mati, lalu kemacetan hidup dengan sempurna.

Dari depan UMI sampai BTP Tamalanrea, kendaraan mengular seperti sedang antre menerima BLT. Bedanya, ini bukan antre bantuan. Ini antrean menuju rumah setelah seharian bekerja.

Memang, volume kendaraan Makassar sudah luar biasa. Tetapi kemacetan malam itu terasa berbeda. Ketika listrik padam, sejumlah traffic light ikut kehilangan nyawa.

Persimpangan yang biasanya diatur lampu merah, kuning dan hijau mendadak berubah menjadi arena demokrasi lalu lintas, siapa cepat, dia lewat. Motor menyelip. Mobil menerobos. Semua merasa punya hak yang sama untuk lebih dulu pulang. Klakson pun berubah menjadi soundtrack resmi Kota Makassar.

Ironisnya, persoalan listrik ini sebenarnya bukan barang baru. PLN sebelumnya menargetkan pemadaman bergilir di Makassar berakhir sekitar 5 September. Namun pada 22 September, pemadaman kembali terjadi. PLN menjelaskan sistem Sulbagsel masih dalam proses pemulihan dan optimalisasi.

Jadi, warga sebenarnya tidak perlu marah. Cukup sabar. Sabar lagi. Sabar terus. Kalau perlu, sabarnya dibuat berlangganan.
Tetapi ada satu persoalan yang tidak boleh hanya diserahkan kepada urusan listrik, traffic light.

Kalau lampu lalu lintas Makassar masih sepenuhnya bergantung pada listrik PLN, maka setiap pemadaman otomatis menjadi ancaman bagi kelancaran lalu lintas. Pemerintah kota perlu mulai memikirkan sistem cadangan, solar panel, baterai penyimpanan, UPS berkapasitas besar, atau kombinasi teknologi lainnya.

Jangan sampai untuk mengatur lalu lintas saja kita masih bergantung pada listrik yang sedang “mengatur beban”. Sebab ketika listrik mati, bukan cuma rumah yang gelap. Persimpangan ikut gelap, jalanan ikut kacau, dan emosi warga ikut menyala.

Malam itu ribuan warga menahan lelah di atas kendaraan. Mereka hanya ingin satu hal sederhana, sampai rumah dengan selamat.

Sementara itu, entah di mana para petinggi perusahaan listrik sedang berada. Semoga rumah mereka tidak padam.
Sebab kalau padam juga, mungkin mereka akhirnya tahu rasanya menunggu listrik sambil menunggu kemacetan selesai. (sah)
#nurmalMIND

Berita Terkait