Ada yang bilang Makassar adalah kota yang tidak pernah tidur. Saya punya versi lain: Makassar adalah kota yang tidak pernah berhentiโฆ di lampu merah, di simpang jalan, dan di tengah kemacetan.
Kalau ingin menguji kesabaran, tidak perlu ikut pelatihan meditasi. Cukup berkendara di ruas Urip Sumoharjo, Bawakaraeng, atau Andi Pangerang Pettarani pada jam sibuk. Dijamin, tingkat kesabaran naik drastis. Yang turun justru jarum bensin.
Pettarani adalah kisah yang paling menarik. Dulu masyarakat berharap jalan tol layang menjadi “jalan tol menuju masa depan”. Kenyataannya, bagi banyak pengendara, tol layang itu lebih mirip tetangga kaya yang rumahnya megah, tetapi pagar depannya menghadap ke gang sebelah. Terlihat mewah, tetapi tidak mudah diakses dari mana-mana.
Persoalannya sederhana. Arus kendaraan dari Urip Sumoharjo dan Bawakaraeng tetap harus bertemu di bawah karena akses menuju tol layang tidak dirancang untuk melayani pergerakan besar dari dua koridor tersebut. Akibatnya, kendaraan tetap menumpuk di jalan lama. Tol di atas melaju, yang di bawah tetap saling menatap sambil sesekali membunyikan klakson sebagai bentuk komunikasi nasional.
Lalu kita bergeser ke Bawakaraeng. Di sini kemacetan memiliki “mitra strategis”, yakni antrean BBM di SPBU. Kendaraan mengular sampai ke badan jalan, ditambah mobil yang parkir seenaknya. Jalan yang seharusnya menjadi ruang lalu lintas berubah fungsi menjadi ruang tunggu dan lahan parkir gratis. Mungkin satu-satunya yang tidak macet hanyalah alasan mengapa kendaraan itu parkir di situ.
Di titik inilah Pemerintah Kota Makassar perlu benar-benar hadir. Jangan sampai jalan raya berubah menjadi parkiran kolektif, sementara masyarakat dipaksa menjadi peserta tetap lomba sabar setiap pagi dan sore.
Kinerja Dinas Perhubungan kini akan diuji. Masyarakat tentu berharap Dishub tidak hanya piawai memasang rambu dan mengatur rekayasa lalu lintas di atas kertas, tetapi juga berani menertibkan parkir liar, berkoordinasi mengatasi antrean SPBU yang meluber ke jalan, serta mengevaluasi titik-titik simpul kemacetan dengan pendekatan yang lebih berani dan kreatif.
Kemacetan bukan sekadar soal kendaraan yang terlalu banyak. Kadang ia lahir dari tata kelola yang terlambat mengejar pertumbuhan kota. Karena itu, solusi tidak cukup hanya menambah jalan, tetapi juga memperbaiki manajemen lalu lintas, disiplin parkir, dan integrasi jaringan transportasi.
Sebab kalau tidak, bisa jadi ikon baru Makassar bukan lagi Pantai Losari, melainkan foto kendaraan yang berhenti berjamaah di Urip, Bawakaraeng, dan Pettarani. Kota ini layak dikenal karena kemajuannya, bukan karena kemampuan warganya menghafal playlist lagu selama terjebak macet.
#nurmalMIND



