Nurmal Idrus – Jakarta
Sabtu, 24 Mei 2026, sore, di bawah langit Kebon Sirih, Jakarta Pusat—kawasan yang selalu sibuk merayakan ambisi dan perputaran uang—saya duduk memenuhi undangan seorang sahabat muda. Ia adalah tipikal potret sukses urban: mapan, bergerak cepat, dan tahu betul bagaimana cara mengonfirmasi status sosialnya di ibu kota.
Tempat perayaan keberhasilannya kali ini jatuh pada Maison Tatsuya Teppanyaki. Sebuah pilihan yang tidak salah, jika golnya adalah mencari makan siang yang merangkap sebagai panggung pertunjukan.
Ketika ritual makan selesai, selembar kertas tipis bernama bill datang tanpa dosa. Angka yang tertera cukup magis: Rp 3 juta lebih sedikit, ludes hanya untuk tiga orang. Sebuah nominal yang sukses membuat lambung berbisik pelan, “Apakah daging yang kita telan tadi sempat diberi makan serpihan meteorit?”
Namun di jantung Jakarta, mempertanyakan harga adalah tindakan yang tidak “berbudaya”. Di sini, kita tidak sedang membeli kalori untuk sekadar kenyang. Kita sedang membeli apa yang diagungkan oleh para pakar korporat sebagai Experience Economy (Ekonomi Pengalaman).
Mari kita bedah mengapa atraksi mematangkan makanan ini dihargai setara dengan biaya sewa kos satu bulan di pinggiran Jakarta, atau bahkan enam bulan sewa kos untuk ukuran Soppeng.
Pertama, Teater Kuliner Berkedok Makan Malam.
Penyajian gaya teppanyaki ini berhasil mengubah meja makan menjadi panggung sandiwara. Chef di depan kami bukan lagi sekadar juru masak, melainkan aktor utama yang memegang kendali emosi penonton. Atraksi menyalakan api (flambé) yang membubung tinggi ke udara itu adalah wow-effect yang sangat manipulatif. Api itu sengaja diciptakan untuk memikat perhatian, memancing tepuk tangan, sekaligus mengalihkan pikiran kita dari porsi makanan yang sebenarnya minimalis.

Kita tidak sedang membayar rasa makanan; kita sedang membeli tiket pertunjukan sirkus mini, di mana bonusnya bisa dikunyah.
Kedua, Agresi Multi-Sensori yang Menguras Dompet.
Metode live cooking ini diakui sangat efektif karena menyerang seluruh panca indra secara serentak. Secara Visual, mata kita dipaksa takjub oleh ketangkasan tangan chef memainkan spatula. Secara Auditori, telinga kita dihibur oleh suara desis an nyaring (sizzling) saat daging menyentuh panggangan besi panas (teppan)—suara yang entah kenapa terdengar mirip dengan dompet yang sedang terkikis pelan.
Sementara secara Olfaktori, hidung dimanjakan dengan aroma karamelisasi bumbu yang tampaknya dihargai ratusan ribu rupiah per hirupan. Semua indra terstimulasi dengan sempurna, termasuk indra keenam kita yang mendadak merasakan firasat buruk menjelang gesekan kartu debit.
Ketiga, Transparansi yang Ironis.
Dalam industri hospitality modern, konsumen memang sudah bergeser menjadi makhluk yang haus akan eksklusivitas. Teppanyaki menawarkan transparansi total, kita bisa melihat langsung kesegaran bahan baku dan higienitas prosesnya.
Namun secara ironis, transparansi ini juga membuat kita bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana uang kita ‘dibakar’ hidup-hidup di atas meja besi datar itu.
Semua drama ini tentu saja bermuara pada satu kebutuhan esensial manusia modern, konten digital. Atraksi api yang menyala tadi sore kini telah bertransformasi menjadi video berdurasi 15 detik di media sosial yang highly instagramable.
Sebuah validasi organik yang secara sukarela kita bagikan ke dunia luar, sebagai pengumuman tidak langsung bahwa kita adalah bagian dari kelas masyarakat yang sanggup membayar mahal untuk sebuah pengalaman.
Melangkah keluar dari Kebon Sirih, perut kami memang terisi, mata terhibur, dan algoritma media sosial mendapatkan asupan barunya.
Sahabat muda saya ini, seorang pebisnis sangat muda, tersenyum puas—sebuah representasi kesuksesan ibu kota yang tuntas divalidasi oleh panggangan besi Jepang.
Teppanyaki sore ini sukses mengajarkan satu pelajaran berharga tentang Jakarta, seni membakar daging di kota ini selalu berbanding lurus dengan seni membakar uang. Dan sialnya, pertunjukan itu memang terlihat sangat estetik. (*)
