Senin, 09 November 2026 | Menyajikan Fakta, Mengawal Kebenaran
Breaking News
Ketika Kebaikan Sosial Tak Selalu Menjadi Kompas Politik • Lepas Kontingen Judo Makassar ke Proprov XVIII, Haidil Adha Pasang Target Juara Umum • 33 Mahasiswa Baru Magister Manajemen UNIPOL, Ada Legislator, Bankir hingga Polisi • Siapa ‘Dalang’ di Balik Gelaran Motocross Bhayangkara Cup III • Pembalap Nasional M. Athar Al Ghifari dan Artis Duo Serigala Pilih Penginapan Ini Selama di Soppeng • Ketua DPD GRIB Jaya Sulsel Apresiasi Kinerja Dir Intelkam Polda Sulsel Jaga Kondusivitas Aksi Sumpah Pemuda • Jakarta Berpesta, Pramono Mengajari Kota Cara Menghasilkan Uang • Usai Dilantik, Suwardi Haseng Pilih Segera ke Soppeng
Opini

𝗕𝗲𝗻𝗱𝘂𝗻𝗴 𝗞𝗮𝗿𝗲𝘁 𝗱𝗶 𝗧𝗲𝗹𝗹𝗼, 𝗝𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗦𝗮𝗺𝗽𝗮𝗶 𝗕𝗶𝗿𝗼𝗸𝗿𝗮𝘀𝗶𝗻𝘆𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗠𝗲𝗺𝗯𝗲𝗻𝗱𝘂𝗻𝗴

===============

Ada satu hal yang lucu dari persoalan air di Makassar, kita sering baru ramai membicarakan air ketika airnya mulai malas datang ke rumah.

Begitu keran mengecil, galon mulai kosong, dan ember mandi mulai lebih sering dipandangi daripada digunakan, barulah semua orang tiba-tiba menjadi ahli air.

Padahal, musim kemarau bukan tamu yang datang mendadak. Ia punya jadwal. Bahkan kadang terlalu rajin datang setiap tahun.

Karena itu, langkah Perumda Air Minum Kota Makassar mendorong pembangunan bendung karet di Sungai Tello patut diapresiasi. Usulan ini dibawa langsung ke Kementerian PU sebagai bagian dari upaya memperkuat sumber air baku dan menjaga kinerja pompa Manggala. PDAM juga mengusulkan pemanfaatan air Bendungan Nipa-Nipa untuk menambah pasokan ke IPA Manggala.

Usulan ini dilakukan oleh Plt Dirut PDAM Makassar Dr. Syahrun. Sebuah usulan terobosan karena belum pernah dipikirkan petinggi PDAM sebelumnya.

Kita berharap petinggi Jakarta sana memperhatikan usulan ini sehingga tak hanya selalu menyalahkan daerah.

Ini cara berpikir yang seharusnya memang dipelihara, jangan hanya sibuk membagi air ketika krisis datang, tetapi perkuat sumber airnya sebelum krisis mengetuk pintu.

Toh, selama kemarau ini, PDAM sudah menunjukkan bahwa solusi distribusi masih bisa bekerja. Wilayah-wilayah yang selama ini rawan air tetap diupayakan mendapatkan aliran. Memang belum sempurna. Tetapi justru itu bukti bahwa sistemnya bisa bekerja dan tinggal diperkuat.

Ibarat motor tua, jangan langsung dibuang hanya karena ngos-ngosan di tanjakan. Mungkin bensinnya perlu ditambah, mesinnya diperbaiki, atau tanjakannya dibuat lebih bersahabat.

Begitu juga dengan PDAM.

Kita tentu tidak boleh menutup mata bahwa masih ada warga yang kesulitan air. Tetapi kritik juga sebaiknya diarahkan pada bagaimana solusi diperbesar, bukan sekadar memperpanjang daftar keluhan.

Sebab air bersih bukan sekadar urusan perusahaan daerah. Ia menyangkut kehidupan warga, kesehatan, ekonomi rumah tangga, sampai urusan sederhana yang sering kita anggap sepele, mandi tanpa harus menghitung sisa air di ember.

Karena itu, usulan bendung karet Sungai Tello dan pemanfaatan air Nipa-Nipa layak mendapat dukungan pemerintah pusat dan Pemerintah Kota Makassar.

Kalau memang ada cara membuat air lebih tersedia, mengapa harus menunggu keran kering dulu baru bergerak?

Makassar tidak kekurangan ide. Yang jangan sampai kurang adalah airnya.

Dan untuk urusan air, lebih baik bekerja sebelum warga mengeluh daripada sibuk menjelaskan setelah warga kehabisan air.

#nurmalMIND

Berita Terkait